BRMP Bali Hadiri Rakor Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau, Perkuat Mitigasi Risiko Kekeringan
Denpasar, 16 Juli 2026 – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali menghadiri Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Kemarau yang diinisiasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali. Kegiatan ini dilaksanakan secara maraton pada 13–16 Juli 2026 di empat kabupaten, yakni Jembrana, Buleleng, Karangasem, dan Klungkung.
Rapat koordinasi diselenggarakan di kantor BPBD masing-masing kabupaten dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain BPBD kabupaten, Balai Wilayah Sungai (BWS), Dinas Pekerjaan Umum, BRMP Bali, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pertanian kabupaten, PMI, camat, Satpol PP, serta instansi terkait lainnya.
Kegiatan ini bertujuan memastikan kesiapan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi dampak musim kemarau, terutama terkait ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan pasokan air untuk lahan pertanian. Dalam rapat tersebut, setiap instansi memaparkan langkah-langkah mitigasi yang telah dilakukan, sekaligus membahas penguatan sinergi antarinstansi guna meminimalkan risiko serta menyiapkan langkah penanggulangan apabila terjadi bencana kekeringan akibat musim kemarau ekstrem dalam beberapa bulan mendatang.
Seluruh Kepala BPBD kabupaten berharap hasil rapat koordinasi tidak berhenti pada tataran perencanaan, tetapi dapat segera diimplementasikan di lapangan. Dengan demikian, ketika bencana kekeringan terjadi, penanganan dapat dilakukan secara cepat dan dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
Beberapa isu strategis yang menjadi perhatian dalam diskusi antara lain potensi kebakaran hutan dan lahan, kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah, berkurangnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat, hingga ancaman gagal panen akibat terbatasnya pasokan air untuk sektor pertanian.
Dalam kesempatan tersebut, BRMP Bali diwakili oleh drh. I Putu Agus Kertawirawan, M.Si., selaku Kepala Kelompok Penerapan dan Penilaian Kesesuaian, menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk memitigasi risiko kekeringan pada lahan pertanian. Salah satunya adalah mendorong pemanfaatan program bantuan mesin perpompaan dan perpipaan melalui Direktorat Lahan dan Irigasi Kementerian Pertanian melalui skema bantuan pemerintah (Banper) yang difasilitasi oleh penyuluh pertanian di masing-masing wilayah.
Selain itu, penggunaan varietas tanaman yang toleran terhadap kekeringan dinilai menjadi salah satu solusi adaptasi yang efektif. Untuk komoditas padi, BRMP Bali merekomendasikan penggunaan varietas unggul padi gogo Inpago 12 dan Inpago 13 Fortiz, sedangkan untuk jagung direkomendasikan varietas Jakarin yang memiliki ketahanan terhadap kondisi kering. Pengembangan kedelai serta penentuan jadwal tanam yang tepat juga menjadi strategi penting dalam mengurangi risiko gagal panen selama musim kemarau.
Menutup rangkaian rapat koordinasi, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Bali, I Wayan Gede Eka Saputra, yang mewakili Kepala BPBD Provinsi Bali, menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi musim kemarau sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak.
"Sinergi dan dukungan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menghadapi musim kemarau. Dengan koordinasi yang baik, dampak yang ditimbulkan dapat ditekan sehingga kenyamanan, keamanan, dan ketenteraman masyarakat tetap terjaga," ujarnya.